Website SMA Negeri -  1 Pangkalan Bun

Kategori Berita

Kontak

  • Telp
    0532-21233
  • Fax
    0532-21233
  • Email
    sma1pbun@yahoo.co.id

Layanan Lain

  • Cek Absen Online
  • Kemdikbud
  • Sertifikasi Guru
  • BSE
  • Rumah Belajar

Statistik Pengunjung

Total Pengunjung :
IP address anda : 3.227.235.183

DUNIA PENDIDIKAN DAN MAKHLUK TAK KASAT MATA BERNAMA CORONA Oleh: Retnaningtyas WWP, S.Pd

Umum - 26 April 2020

DUNIA PENDIDIKAN DAN MAKHLUK TAK KASAT MATA BERNAMA CORONA

Oleh: Retnaningtyas WWP, S.Pd

 

Dunia dikejutkan dengan kehadiran sebuah virus baru yang penyebarannya sangat cepat dari tubuh manusia satu ke manusia lain. Sebuah virus yang kemudian kita kenal dengan nama Corona Virus Disease-19 (COVID-19) ini telah membuat banyak kepala negara di dunia memutar otak mencari cara terbaik untuk menghentikan penyebarannya. Jadi, apa sebenarnya COVID-19? Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), COVID-19 adalah sebuah penyakit menginfeksi yang disebabkan oleh virus corona jenis baru.

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus ini akan mengalami sakit pernafasan ringan hingga sedang dan mungkin sembuh tanpa perawatan khusus. Namun, orang lanjut usia atau lansia dan orang dengan riwayat penyakit tertentu seperti, penyakit jantung dan diabetes merupakan golongan yang cenderung lebih rentan terinveksi virus ini karena imunitas tubuh mereka yang tergolong rendah.

Menurut Sarah Newey dan Anne Gulland, penyebaran makhluk kecil ini diduga berawal dari “wet market” di kota Wuhan, Cina yang menjual hewan mati dan hidup termasuk burung dan ikan. Jenis pasar ini beresiko menjadi tempat penyebaran virus dari hewan ke manusia karena standar kebersihannya sulit untuk dikontrol jika hewan hidup dan proses penyembelihan berada di satu tempat yang sama. Pada dasarnya, belum ada sumber yang menyampaikan dengan pasti berasal dari hewan apa COVID-19 ini, namun diperkirakan kelelawarlah yang menjadi inangnya. Kelelawar memang tidak dijual di pasar Wuhan akan tetapi mungkin menginfeksi hewan-hewan yang dijual di pasar tersebut. Kelelawar juga merupakan inang dari zoonotis virus lainnya seperti ebola dan rabies.

Menurut Kompas.com, sampai detik ini sudah tercatat 1,93 juta kasus orang terinfeksi, termasuk 4.839 di Indonesia. Karena penyebarannya yang sangat cepat dan lintas benua, WHO menetapkan penyebaran virus ini diatas wabah dan endemic, yaitu pandemi. Dengan kata lain negara-negara di dunia masih terus berperang melawan pandemi ini. Seperti di Indonesia, berbagai macam kebijakan diambil demi memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Begitu cepatnya penyebaran COVID-19 hingga mempengaruhi banyak sektor seperti ekonomi, sosial, industri, dunia kerja, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam sektor pendidikan khususnya, seperti dikutip dari Detik News bahwa telah diakui oleh organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada Kamis (5/3), wabah virus corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Bahkan sudah dilaksanakan di Indonesia dan beberapa negara di dunia lainnya sejak COVID-19 mulai menyebar kebijakan diambil dengan meliburkan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menerapkan alternatif belajar bagi peserta didik maupun mahasiswa. Dalam praktiknya, proses belajar mengajar di rumah , siswa dan guru dibantu dengan berbagai aplikasi belajar online. Namun, efektifkah langkah belajar dari rumah yang sudah berjalan selama ini? Seperti kita ketahui bahwa proses belajar mengajar daring membutuhkan banyak hal, mulai dari kuota internet, aplikasi yang dipilih untuk melancarkan proses belajar mengajar tersebut, hingga sarana seperti handphone dan komputer atau laptop. Hal ini mungkin bukan masalah besar bagi mereka yang beruntung dapat mengakses fasilitas tersebut dengan mudah. Namun, bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung dengan segala keterbatasan? Pemerintah dan lembaga pendidikan terkait dituntut untuk memperhatikan itu semua. Dalam prosesnya, guru juga dituntut untuk kreatif mengkreasikan model pembelajaran daring dengan bermacam-macam aplikasi supaya siswa tidak bosan dan materi ajar tersampaikan dengan baik. Akan tetapi, harus kita akui bahwa tidak semua guru melek teknologi. Belum lagi ketersediaan perangkat pendukung yang masih menjadi masalah tersendiri. Tidak semua orang tua dapat memfasilitasi anak-anak mereka dengan teknologi. Selanjutnya, proses belajar mengajar daring tidak bisa lepas dari penggunaan jaringan internet. Ketidakstabilan jaringan internet karena faktor geografis juga menjadi salah satu penghambat keefektifan proses belajar mengajar daring. Terlebih beberapa aplikasi belajar membutuhkan kuota internet yang besar jika diakses setiap hari dan penyediaan kuota tersebut di rumah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Metode pembelajaran daring sebenarnya bukan lagi hal baru. Proses pembelajaran di perguruan tinggi apalagi, hal ini sudah terbiasa dilaksanakan. Namun bagi satuan pendidikan dasar dan menengah belum terlalu diterapkan sehingga perlu persiapan sungguh-sungguh agar dapat berjalan dengan baik.

Teknologi bagaikan dua sisi mata uang, sisi positif maupun negatif memiliki peran yang sama besarnya sehingga literasi teknologi diperlukan bagi masyarakat, terutama bagi orang tua mengenai pemanfaatannya dalam pembelajaran daring yang saat ini sedang berlangsung. Peran serta orang tua sangat penting karena mereka akan mendampingi secara langsung anak-anak selama belajar di rumah. Pengetahuan orang tua terhadap teknologi dan macam-macam aplikasi pembelajaran diperlukan demi kelancaran proses belajar mengajar daring ini. Pendidikan berawal dari rumah, dengan adanya peristiwa ini rumah selain menjadi tempat berlindung dan berkumpul keluarga, juga menjadi sekolah tempat orang tua mendidik dan mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Proses belajar mengajar daring ini juga sebaiknya menjadi penyadaran bagi guru bahwa pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar sangatlah penting. Selain mengikuti perkembangan jaman, teknologi juga memudahkan proses belajar mengajar seperti pembuatan materi ajar interaktif, penilaian berbasis online, pembuatan video dan presentasi yang menarik. Seiring perkembangan peradaban manusia ke jaman digital, guru pun harus menyesuaikan perkembangan tersebut jika tidak ingin ketinggalan. Guru tidak bisa digantikan oleh teknologi, maka dari itu kita harus bisa mengendalikan teknologi.

Mungkin pandemi ini salah satu cara Tuhan menyayangi umat-Nya. Cara-Nya membuat kita tersadar betapa berharganya waktu bertemu dan bertegur sapa. Pada hakikatnya proses belajar mengajar tatap muka tetap diperlukan karena teknologi tidak bisa menggantikan guru mengajarkan rasa, nilai-nilai dan karakter. Teknologi memang bisa memudahkan segalanya, tetapi guru akan selalu dibutuhkan untuk mengajarkan simpati dan empati. Pandemi COVID-19 mungkin menimbulkan banyak kerugian, tetapi selalu ada hikmah di setiap peristiwa, bukan? Manfaatkan waktu belajar di rumah untuk sering berinteraksi dengan orang tua, kakak, maupun adik. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbagi cerita dan pengetahuan bersama keluarga. Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga kita semua dapat masuk sekolah dalam kondisi yang normal. Seperti judul buku populer R.A. Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yakin, percaya, tetap terapkan pola hidup bersih dan sehat, dan selalu patuhi protokol kewaspadaan sesuai anjuran pemerintah. Salam sehat.

 

Referensi:

www.who.int/health-topics/coronavirus

www.telegraph.co.uk/news/2020/04/14/what-coronavirus-how-covid-19-started-china

www.kabar-priangan.com/dampak-pandemi-covid-19-terhadap-dunia-pendidikan

https://anteroaceh.com/news/corona-dan-dampak-sosial/index.html

m.detik.com/news/kolom/d-4945590/pendidikan-di-tengah-pusaran-wabah-corona

Baca Juga

0 Komentar

Belum ada komentar

Kirim Komentar

Nama Anda

Kota

Email

Komentar